Sampingan

Mahad Al-Zaytun Indonesia : Agama (Beragama) Bukan untuk Menciptakan Kesukaran

23 Nov

Agama (Beragama) Bukan untuk Menciptakan Kesukaran

Motto:
Dia (Tuhan) telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran (kesulitan) untukmu dalam agama. Q.S. 22:78.

Aku (Nabi Muhammad SAW) diutus untuk menyampaikan aqidah tauhid yang lurus dan perilaku yang toleransi.

Pelaksanaan Idul Kurban tahun ini 1432H/2011M dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, diapit oleh dua hari bersejarah yang selalu dikenang oleh bangsa Indonesia yaitu 28 Oktober merupakan hari Sumpah Pemuda dan 10 November sebagai hari Pahlawan.

28 Oktober 1928 adalah hari bulan diproklamasikannya tekad dan kemauan untuk bersatu oleh kaum pemuda demi terwujudnya satu negara, bangsa, dan bahasa Indonesia. Sehingga dengan tekad dan kemauan yang menggumpal sebagai sumpah tersebut, menjadi semakin bulat dan kuat semangat menuju pencapaian proklamasi kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah bangsa asing.

Sedangkan 10 Novemver di kenang sebagai hari Pahlawan, merupakan peringatan terhadap peristiwa penting sejarah kemerdekaan Indonesia. Dihari bula tersebut tahun 1945, berlangsung peperangan dahsyat antara pemuda Surabaya dan tentara koalisi (sekutu) yang bertujuan menduduki kembali Indonesia melalui Surabaya, Jawa Timur. Sekalipun peperangan terjadi di Surabaya, namun hari bulan tersebut dijadikan simbol perlawanan Nasional bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Dan ditetapkan sebagai hari pahlawan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena banyaknya korban jiwa sebagai pahlawan dalam peperangan tersebut.

Hari ini 6 November, kita menyambut Idul Kurban/Idul Adha. Bersamaan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha, peritiwa kisa suci tentang Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya selalu diperingati oleh kaum muslimin, dengan menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji maupun oleh mereka yang tidak pergi melaksanakannya.

Menyembelih binatang kurban, begitu juga berpakaian ihram dalam pelaksanaan haji dan sejenak wukuf di padang Arafah, semuanya adalah pelaksanaan ritual simbolik. Semuanya terpulang kepada pelakunya, seberapa jauh dan dalam, seseorang pelaku ritual itu memaknai dan mengambil hikmah daripadanya.

Yang mesti semua pesan ritual simbolik yang dilaksanakan sebagai bentuk ibadah, harus kita hayati secara mendalam dan subtantif, yaitu pesan moralitas dan spiritual sebagai tujuan ibadah yang kita laksanakan. Agar dalam keseharian, ibadah kita tidak menimbulkan paradoksi, antara kecenderungan keberagaman yang ditandai oleh semakin semaraknya ritual keagamaan yang ditandai oleh semakin semaraknya ritual keagamaan. Sedang disisi lain pesan moral daripadanya, yang dipesankan oleh agama kehilangan sendi-sendi kesalehan sosialnya.

Karenanya, menyenyawakan antara kehidupan beragama dan kehidupan bermasyarakat, menjadi suatu keharusan dalam kehidupan keseharian.

Agama dalam definisi sederhana adalah aturan atau tatacara hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Sedangkan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi, menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Karenanya, pelaksanaan berbagai ritual yang simbolis itu harus dapat melatih diri pelakunya, menjadi semakin berkemampuan mewujudkan interaksi positif dalam kesatuan hidup sesama umat manusia dan lingkungannya dan yang semakin berkualitas. Menjadikan dirinya lebih berguna dan bermanfaat bagi setiap umat manusia. Wujud nyata dari keberagaman yang benar adalah kemampuan berbuat baik bagi sesama manusia, dan itu pula suatu bukti kebenaran iman seseorang kepada Tuhannya.

Mari kita telaah lebih mendalam tentang kurban itu. Mengapa kita dituntut untuk memiliki semangat berkurban yang setinggi-tingginya. Mengapa kita diperintahkan untuk mencontoh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, dan mempelajari semangat pengorbanan mereka.

Kurban adalah perkataan Arab, yang artinya adalah ”pendekatan”, yaitu pendekatan kepada Tuhan. Maka, melakukan kurban adalah melakukan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Tuhan yakni mendekatkan diri kita kepada tujuan hidup. Sebab, kita berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.

Tindakan berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan jauh kedepan yang menunjukkan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara, kemudian melupakan kebahagiaan abadi, kebahagiaan selama-lamanya.

Oleh karena itu, makna berkurban ialah bahwa dalam hidup kita melihat jauh kemasa depan dan tidak boleh terkecoh oleh masa kini yang sedang kita alami, bahwa kita tabah dan sabar menanggung segala beban yang berat dalam hidup kita saat sekarang. Sebab, kita tahu dan yakin bahwa dibelakang hari kita akan memperoleh hasil dari usaha, perjuangan, dan jerih payah kita.

Maka kita maknai, berkurban ialah, bahwa kita sanggup menunda kenikamtan kecil dan sesaat demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan kekal. Kita bersedia bersusah payah karena dengan hanya susah payah suatu tujuan tercapai, dan cita-cita terlaksana. Semangat berkurban adalah konsekuensi iman dan takwa kepada Allah. Sebab, takwa itu jika dijalankan dengan ketulusan dan kesungguhan akan membuat kita berkemampuan melihat jauh kedepan, mampu menginsyafi akibat-akibat perbuatan saat ini di kemudian hari, kemudian menyongsong masa mendatang dengan penuh harapan.

Sumber: Majalah Al-Zaytun Edisi 59-2012 Kolom : Horison hal : 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: